Bismillaah…

Berawal dari hobi membuat komik, lalu terbersit sebuah tanya:

Ya Allah, tangan sudah terlanjur mengenal, apakah boleh hamba lanjutkan satu kesukaan hamba ini?


Beberapa pendapat sudah Saya kumpulkan, ada yang membolehkan tapi banyak yang melarang. Akhirnya, Saya mencoba berhenti menggambar. Tapi ternyata, Saya tak mampu berhenti lama. Tiap kali membaca komik, melihat kartun, atau berbagai animasi atau ilustrasi di berbagai media, rasanya gatal untuk kembali corat-coret. Apalagi ketika melihat komik-komik zaman sekarang yang tidak jauh beda dengan film porno—blue film—kalau kata orang-orang. Entah, apakah UU Pornografi berhasil menghentikan peredaran komik-komik tersebut atau tidak. Yang pasti, rasa prihatin seolah membuncah ingin berkarya di bidang ini agar dakwah dan pendidikan pun mampu digemari seperti Naruto, Conan, dan lainnya digandrungi orang-orang. Tak hanya itu, ingin rasanya membuat sebuah game edukasi dan dakwah yang digandrungi seperti Sims, Final Destination, dan berbagai permainan baik online maupun tidak.

Berkaitan denga hal ini, Saya akan mengambil fatwa Yusuf Qaradhawi di buku Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3 yang diterbitkan Gema Insani Press cetakan pertama (2002), insyaAllah lain kali akan Saya lengkapi berbagai pemikiran dari para ulama.

Menurut beliau, yang mendukung pendapat para ulama klasik (salaf) berdasarkan dalil-dalil syara’, gambar-gambar yang diharamkan adalah gambar yang mempunyai bayangan dan mempunyai bentuk, atau yang disebut patung. Seperti dalam sebuah hadists (tidak diberitahukan siapa yang merawikannya):

“Siapakah yang lebih zalim dari orang yang menciptakan sesuatu seperti ciptaan-Ku?”

Hanya lukisan yang berbentuk yang bisa dibayangkan akan ditiupkan ruh ke dalamnya pada hari kiamat. Padahal sang pelukis selamanya tidak akan mampu melakukannya.

Patung dibolehkan untuk mainan anak-anak, misal boneka. Alasannya, karena mainan merupakan kebutuhan anak-anak, tidak ada unsur penyakralan dari patung atau gambar-gambar tersebut.

Jadi, gambar dan film kartun, hukumnya boleh. Adapun hal tambahan yang meringankan hukum dalam masalah ini adalah:

  1. Gambar dan film kartun, bukanlah gambar yang sempurna, yang tidak berbentuk sebagaimana patung.
  2. Gambar tersebut digunakan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Sedangkan anak-anak sangat menggemari dan bisa terpengaruh karenanya.
  3. Sejak dulu, umat lain sudah memanfaatkan sarana ini untuk menyerang kita dengan gencar melalui berbagai saluran televisi.

Beliau pun menganjurkan kita mampu berperang komunikasi melalui sarana ini, seni. Dengan ini, diharapkan kita mampu menyampaikan risalah agama, peradaban, dan tradisi kita. InsyaAllah.

Allahu ‘alam

by: arum amalia_sanggemintang

About these ads